Friday, November 18, 2011

Rencana mengaktifkan Wifi

| Friday, November 18, 2011 | 0 comments

Banyak penumpang pesawat yang mencari cara melewatkan waktu saat terbang melintas antar negara, baik dengan membaca atau menonton film. Tapi, kini, di pesawat milik United Continental, terdapat rencana mengaktifkan Wifi, sehingga penumpang bisa menghabiskan waktu terbang dengan berinternet.

Pemegang saham United Continental mengumumkan sebuah kemitraan dengan perusahaan Avionik Panasonic untuk memberikan akses Wifi kepada penumpang selama penerbangan. Layanan ini terdapat di lebih dari 300 penerbangan.

Hal itu akan dimulai pada pertengahan 2012. Pada akhir 2015, seluruh armada pesawat akan dilengkapi dengan teknologi satelit berbasis Wifi.

Teknologi tersebut yaitu Panasonic Ku, sebuah teknologi satelit yang menawarkan kecepatan yang lebih baik dibandingkan koneksi dari daratan, dengan layanan Gogo Inflight Internet. Beberapa perusahaan yang menggunakan layanan Gogo ini yakni US Airways, American Airlines, Delta, AirTrans, dan Virgin America.

Dengan kecepatan tinggi, United Continental merencanakan wireless streaming dari konten video. Sementara itu, maskapai penerbangan dapat mengarahkan penumpang untuk menonton pilihan hiburan selama penerbangan dengan koneksi Wifi, seperti melalui layanan streaming Netflix atau Hulu Plus dalam sebuah tablet, smartphone atau laptop komputer.

Sistem Panasonic akan diinstal dalam Boeing 747, 757, 767, 777, dan 787 layaknya pesawat Airbus 319 dan 320. Pengumuman ini sementara hanya di seluruh armada penerbangan di dua perusahaan.

Continental Airlines sebelumnya mengumumkan bahwa pada awal Januari 2012, 200 pesawatnya saat ini dilengkapi degan akses TV langsung dengan upgrade Wifi.

Pemegang saham United Continental belum memberikan informasi harga layanan Wifi tersebut. Biaya layanan Wifi dalam penerbangan biasanya sekitar US$10 sampai US$50 untuk akses laptop, dan US$5 sampai US$20 untuk akses dalam smartphone.

JetBlue merupakan salah satu maskapai yang menawarkan gratis akses Wifi, yang terbatas untuk instant messaging, email, dan browsing website.
Sedangkan Southwest tidak memberikan akses internet penuh dalam penerbangan, hanya Wifi pesawat boleh untuk koneksi portal games, belanja dan alat status penerbangan.

Merupakan sebuah kejutan saat banyak maskapai tidak memberikan layanan Wifi gratis untuk menarik banyak penumpang dan mengisi kursi yang kosong.

Readmore --->

Sunday, November 6, 2011

Berkunjung ke Palembang

| Sunday, November 6, 2011 | 0 comments

Berkunjung ke Palembang tak lengkap jika tak berbelanja. Banyak alternatif tempat belanja, baik yang modern maupun tradisional. Dari sekian banyak lokasi belanja, Pasar Loak Cinde patut jadi perhatian.

Pasar ini menyediakan semua jenis produk kebutuhan, mulai pakaian, alat elektronik, kebutuhan rumah tangga,hingga senjata. Barang-barang yang dijual tak hanya buatan dalam negeri, tapi juga made in luar negeri. Pasar Cinde sebenarnya sebuah pasar yang berlokasi dalam gedung di pinggir Jalan Sudirman, Palembang.

Pasar tradisional itu memiliki los yang berjumlah 500 los lebih. Namun, seiring perkembangan, Pasar Cinde saat ini bukan hanya pasar tradisional di gedung tersebut. Tetapi, Pasar Cinde identik dengan pasar loak, yang kondisinya ramai di kunjungi setiap Minggu pagi. Pasar Cinde yang dikenal masyarakat Palembang yakni pasar loak yang menyediakan berbagai aneka produk, dari dalam dan luar negeri.

Dari produk yang langka dan jadul hingga produk teranyar pun bisa di dapat di pasar ini. Lokasinya pun cukup luas, tersebar dari Jalan Cinde Welang, Jalan Karet, Jalan R Muhammad, hingga tembus ke Jalan R Nangling Hua. Di sepanjang Jalan Cinde Welang, banyak ditemui pedagang besi bekas. Namun, jika ingin mencari berbagai produk automotif,bisa ditemui di Jalan R Muhammad dan Jalan Karet.

Di sana juga bisa ditemui cukup banyak pedagang elektronik yang menyediakan speaker second, tape mobil, bahkan home theater. Namun, jika ingin mencari alternatif hiburan lain, seperti VCD atau DVD, Jalan Karet tempatnya. Jalan ini sejak dulu dikenal sebagai pusat peredaran VCD dan DVD bajakan di Palembang.

Bisa ditemui berbagai jenis film, baik film dalam negeri maupun film luar negeri, yang sedang di putar di bioskop. Alex, 30, salah seorang pedagang VCD/DVD, mengungkapkan, setiap harinya dia bisa menjual 100 keping VCD dan DVD kepada pembeli dengan harga relatif murah, yakni Rp3.000 per keping untuk VCD dan Rp5.000 per keping DVD.

“Sudah lama pak saya berdagang di sini.Ya, sekitar lima tahunan,”ungkap Alex. Meski sudah dua kali digiring ke kantor polisi lantaran ketahuan berjualan VCD dan DVD porno, Alex mengaku tidak akan berhenti berdagang karena bisnis tersebut merupakan satu-satunya sumber penghasilan keluarganya. “Masih ada saja yang jualan Pak.Namanya juga barang laku,” ungkap dia. Di Jalan Karet juga banyak ditemui pedagang pakaian bekas alias BJ.

Jika ingin berburu pakaian bermerek luar negeri, bisa ditemui setiap Minggu. Pakaian bekas tersebut dijual cukup murah, mulai Rp5.000 hingga Rp120.000. Asalkan pintar menawar harga,pakaian bermerek bisa didapatkan dengan harga yang sangat murah di tempat ini. Pelaku budaya,Sudarto Maleno, mengatakan,Pasar Cinde sebenarnya punya nilai historis. Sebab, di zaman perjuangan lokasi tersebut menjadi jalur jalan pertempuran lima hari lima malam.

“Meski kurang spesifik, Cinde memiliki nilai bagi masyarakat Palembang hingga menjadi ikon,” kata dia. Dari keunikan Pasar Cinde, selain lokasi wisata Pasar Cinde, juga dapat menjadi wisata belanja alternatif bagi para tamu dan wisatawan yang datang ke Palembang saat SEA Games Ke-26.

“Ini juga bisa menjadi alternatif belanja bagi para pelancong SEA Games. Mereka bisa mencari berbagai aneka barang antik atau produk langka,” kata dia. Selain itu, Cinde meru-pakan pasar bagi proses ekonomi masyarakat kelas bawah hingga kelas atas. Lantaran mudah mencari produk yang diperkirakan sudah langka, Cinde juga menjadi lokasi buruan kolektor.

Dualisme Kepemilikan

Meski terkesan kumuh, Pasar Cinde tidak luput dari perhatian pemerintah. Pasar Cinde sempat beberapa kali dilirik Pemkot Palembang dengan segudang rencana renovasi dan pembenahan.Bahkan, sudah disiapkan dana Rp200 juta untuk merenovasi pasar tersebut. Sayangnya,Pengembangan Pasar Cinde terkendala kepemilikan lahan dan bangunan. Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra beberapa waktu lalu berencana merenovasi dan menata tempat itu.

Sayangnya, secara hukum tanah Pasar Cinde milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Sedangkan, bangunannya milik Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Akibat dualisme kepemilikan tersebut, Pemkot kesulitan mengeluarkan kebijakan mengembangkan salah satu pasar tua di Palembang tersebut, meski sudah menawarkannya kepada investor asal China.

Wakil Ketua DPRD Su-matera Selatan Ahmad Djauhari mengatakan, pihaknya sangat mendukung progres pemerintah Palembang yang ingin mengembangkan Pasar Cinde supaya lebih modern dan nyaman. Meski terjadi dualisme kepemilikan, atas dasar niat baik mengembangkan Kota Palembang, dia yakin pemerintah provinsi setuju atas rencana tersebut.“Saya yakin pemerintah provinsi akan setuju dengan niat tersebut.

Dengan penataan, Cinde akan lebih baik dan nyaman,”ungkap Jauhari. Dia mengungkap kan, Pasar Cinde telah menjadi ikon Kota Palembang. Seharusnya ditata rapi dan lebih baik dari sebelumnya. Jauhari mengenal Pasar Cinde, yang sebelumnya Pasar Lingkis itu, sebagai tempat berbelanja berbagai peralatan rumah tangga yang harganya dapat dijangkau seluruh kalangan.

Readmore --->
 
Copyright © 2015 Mesin Tempur All rights reserved